Friday, December 02, 2005

UNSUR SOSIAL-PSIKOLOGIS DALAM “ATHEIS” KARYA

UNSUR SOSIAL-PSIKOLOGIS DALAM “ATHEIS” KARYA
ACHDIAT K MIHARDJA DAN “OLENKA” KARYA BUDI DARMA;
SEBUAH ANALISIS INTERTEKSTUAL
1. PENGANTAR
Karya sastra tidak lahir dari situasi kosong budaya (Teeuw, 1980: 11). Dalam kajian intertekstual, hal ini lebih dipersempit lagi dalam hal hubungan antar teks. Suatu teks itu penuh makna bukan hanya karena mempunyai struktur tertentu, suatu kerangka yang menentukan dan mendukung bentuk, tetapi juga karena teks itu berhubungan dengan teks lain (Dra. Rina Ratih, S.S. dalam “Pendekatan Intertekstual dalam Pengkajian Sastra”, terdapat dalam: Jabrohim (ed), 2003: 125). Jadi dalam intertekstual kita melihat bagaimana suatu teks bisa dilihat garis hubungan, dalam hal isi maupun bentuk, dengan teks lainnya. Hal ini sangat diharapkan bisa membantu pemaknaan terhadap sebuah karya sastra sebagaimana yang ditujukan dalam sebuah penelitian ilmiah ilmu sastra. Julia Kristeva (dalam Culler, 1977: 139) mengatakan bahwa karya sastra (sajak) baru bermakna penuh (lebih bermakna) setelah dihubungkan dengan karya sastra (sajak) lain karena pada hakikatnya karya sastra merupakan respon (serapan, olahan, mosaik kutipan, transformasi) terhadap apa yang telah ada dalam karya sastra lain.
Meski defenisi tentang intertekstual lebih dipersempit lagi dengan pengandaian suatu teks merupakan hipogram dari teks transformasinya, seperti yang diajukan Kristeva, dalam analisis ini saya hanya akan menampilkan hubungan yang lebih sejajar antara Atheis dan Olenka, walau, secara faktual Atheis memang diterbitkan lebih dahulu 34 tahun sebelum Olenka. Hal ini disebabkan saya melihat hubungan antara kedua novel ini lebih menarik dikaji dengan metode perbandingan dibanding peng-hipogram-an satu teks atas teks lain. Walau sangat tentu tak tertutup kemungkinan bahwa terjadi proses transformasi satu teks atas teks lainnya, pengoposisian yang seimbang antar keduanya akan menghasilkan kajian yang lebih kaya. Itu berarti disini tak dituntut bahwa satu teks meng-hipogram-i teks lainnya secara searah, sebagaimana logika perurutan waktu hanya memungkinkan bahwa Budi Darmalah yang dalam mengarang Olenka mungkin terpengaruh Atheis, melainkan dengan teknik perbandingan ini kita hanya akan memandang hubungan wacana antar teks tanpa harus dalam kerangka latar sejarah perurutan waktu penerbitan karya. Sehingga hubungan yang bisa digali pun akan lebih luas tanpa pembatasan pada logika realitas sejarah kelahiran karya tersebut. Dan defenisi dasar tentang intertekstual, yani hubungan antar teks (isi teks, bukan dunia nyata tempat kelahiran teks), memberi ruang untuk menggunakan metode penerapan analisis seperti ini.
Sistematika penulisan berikut adalah dengan melakukan sinopsis, penggalian aspek mimetik, pemaparan latar belakang pengarang, dan refleksi sosial budaya pada masing-masing novel terlebih dahulu, baru terakhir simpulan yang akan menggabungkan bahasan atas kedua novel tersebut. Penggalian aspek mimetik adalah pemaparan tentang latar dunia nyata (termasuk dunia ide yang hadir di dunia nyata tersebut – dan defenisi ‘dunia nyata’ disini adalah terkait dengan isi teks bukan realitas kehidupan yang diluar wacana teks) yang dianggap mengambil peran utama dalam karya, sebab, seperti yang diteorikan M.H. Abrams, ada pendekatan mimetik sebagai salah satu cara mendekati (mengkaji) karya sastra. Pendekatan mimetik tersebut menganggap karya sastra sebagai tiruan alam, kehidupan, atau dunia ide. Bagian refleksi sosial budaya merupan proses penggalian karya berdasarkan unsur mimetis dan latar belakang pengarangnya yang telah terlebih dahulu dipaparkan. Dalam bagian ini karya lain juga bisa disinggung dalam posisi sebagai pembanding untuk tujuan pembahasan novel yang dibahas pada bagian tersebut. Namun pembandingan secara setara dan menyeluruh adalah pada bagian simpulan.
2. SINOPSIS NOVEL
2.1 ATHEIS
Hasan, seorang pemuda yang masih tergolong berada dan punya tingkat stratifikasi sosial yang tinggi di desa asalnya, meninggalkan kedua orang tuanya dan memulai kehidupan baru di kota Bandung dengan tinggal bersama bibinya dan bekerja pada sebuah kantor jawatan pemerintah. Kehidupannya sehari-hari masih berjalan normal sebagaimana dari sejak dahulu ia menjalani kehidupan hingga ia bertemu Rusli dan Kartini. Berawal dari ajakan Rusli, kawan masa kecilnya dulu yang secara tak sengaja bertemu lagi sekarang setelah lama berpisah, untuk bertamu ke rumahnya dan yang terlebih lagi ada perasaan tertentu yang menghinggapinya kala dengan Kartini, yang merupakan kawan Rusli, pertama kali berjumpa, Hasan jadi sering mampir ke tempat Rusli. Dan mulailah Hasan mencebur dalam pergaulan Rusli dan Kartini, dan kawan-kawan mereka, yang merupakan aktivis ideologi marxis.
Hasan yang dahulunya tetap mampu hidup sebagaimana biasa di desanya walaupun berada di tengah-tengah kemodernan kota Bandung, mulai berubah. Hal yang utama adalah menyangkut sisi relijiusitas yang selama ini sanggup dipegang teguhnya. Semakin sering ia berkumpul dalam forum-forum diskusi pemikiran marxis Rusli dan kawan-kawannya, juga semakin akrab ia dengan mereka, mulai semakin tak perlahan Hasan meninggalkan gaya hidup lamanya. Tentu saja ideologi marxis akan sangat menubruk pemahaman keagamaan yang sangat tradisionalnya Hasan. Dan ini juga tak berlangsung mudah. Pada awalnya Hasan masih sangat keras untuk berusaha melawan jalan pikiran kawan-kawan marxisnya. Hal ini ditunjukkan dengan tekadnya suatu kali untuk menyadarkan Rusli guna kembali ke jalan yang benar. Dengan semangat ia mendatangi Rusli, namun ternyata Hasan kalah berdebat. Rusli digambarkan sebagai sosok yang sangat cerdas dan pintar berwacana, tidak sebanding dengan Hasan yang masih sederhana wawasan maupun pola pikirnya. Hasan menyerah, ia terus menggabung dalam lingkunagan marxis itu dan terus tambah terpengaruh. Sewaktu suatu saat kembali ke rumah orang tuanya di desa Wanaraja, kebetulan bersama Anwar (salah seorang rekan marxisnya yang paling gila), ia bahkan berani berteus terang pada kedua orang tuanya tentang pemahaman keimanan terbarunya. Dan tentu saja untuk itu Hasan harus membayar dengan perpisahan untuk selamanya.
Namun ditengah keterus menceburan Hasan ke dalam lingkungan Marxis, ia sebetulnya juga tak sepenuhnya sanggup dan mau untuk mengikuti ideologi tersebut. Keberadaan seorang Kartinilah yang menjadi perangsang baginya untuk terus ada di komunitas yang membuat ia kebanyakan hanya menjadi penonton yang pasif dalam berbagai saling lempar wacana yang ada. Hingga akhirnya Hasan kawin dengan Kartini dan pada awalnya berbahagia sentosa raya. Tentu, tak lama pula, datanglah juga masa sengsara, Hasan dan Kartini mulai sering bertengkar. Dan pertengkaran inipun berujungkan perpisahan. Sumber konfliknya adalah, utamanya, ketidaksukaan Hasan pada gaya hidup modern Kartini. Hasan masih memendam cara pikir yang konservatifnya ternyata. Dan memang begitulah. Dalam keterlibatan ia berkecimpung di dunia pemikiran kaum “atheis”, ia masih sangat mendekap erat pandangan-pandangan masa lalunya. Dan pertentangan pikiran ini cukup menyiksa hari-hari Hasan, yang hanya sanggup diobati, awalnya, dengan impian akan keanggunan Kartini, tetapi selain itu Hasan pun berhadap dengan penderitaan fisik berupa penyakit paru-paru yang dideritanya.
Suatu hari Hasan mengetahui bahwa di suatu hotel Anwar pernah berniat memperkosa Kartini, dalam marah, ketika berjalan mencari Anwar, ia ditembak oleh tentara Jepang yang menuduhnya mata-mata. Hasan tersungkur oleh terjangan peluru dan mengucap takbir, sisa-sisa relijiusitas yang terpendam dihatinya selama ini keluar juga akhirnya. Ia mati di penjara sebab dikabarkan tak sanggup menahan siksa. Kartini sangat sedih dan terpukul begitu mendengar kabar kematian Hasannya tercinta.
2.2 OLENKA
Pada suatu hari, Fanton Dummond – seorang pria yang hidup sendirian di sebuah apartemen bernama Tulip Tree di Bloomington, India, Amerika Serikat, secara kebetulan, bertemu seorang wanita, yang bernama Olenka, yang mencuri perhatiannya. Pertemuan pertama tersebut menjadi inspirasi bagi Fanton untuk mengusahakan kembali bisa bertemu Olenka, tetapi ternyata diusahakan dengan sengaja untuk bertemu, Dummond malah kehilangan jejak Olenka. Memang dia sudah memastikan bahwa Olenka juga tinggal di apartemen tersebut bersama Wayne, suami, dan Steven, anaknya, namun ia memutuskan untuk melakukan pertemuan yang dirancang untuk terlihat kebetulan saja. Dan Fanton gagal. Tetapi secara kebeulan pula, ia malah bisa bertemu dengan Olenka setelah Olenka juga dengan sengaja mengusahakannya. Singkatnya mereka saling kenal dan bahkan sampai bisa tidur berdua. Wayne tahu sebetulnya tapi cuek saja. Dummond pun saling kenal dengan Wayne. Dan ada perang terselubung di batin masing-masing mereka. Sementara hubungan Fanton dengan Olenka pun banyak diwarnai percakapan-percakapan ‘tingkat tinggi’ namun dibuat santai bahkan seperti asal saja. Memang hidup Dummond dipenuhi pula oleh pikirannya yang selalu mencoba menelusup ke jalan pikiran orang lain.
Hingga suatu hari Olenka menghilang. Wayne santai saja. Fanton kalang kabut. Namun dalam situasi itu Dummond malah jadi sering berhubungan dengan Wayne, bahkan Fanton sempat membantu Wyne dalam memberi saran pekerjaan, dan Wayne menikmati pula pekerjaan hasil saran Dummond. Tapi di dalam pikirannya, Fanton teramat sangat memusuhi Wayne begitupun sebaliknya ia membaca pikiran Wayne terhadap dirinya. Dan ditengah keanehan sikap antar keduanya ini, ia sempat meninju muka Wayne yang ternyata juga malah tersenyum saja seperti sudah memperkirakan dan memaklumi tindakan itu yang membuat Fanton Dummond semakin membenci Wayne dalam pikirannya. Olenka tiada juga berkabar, Dummond mulai melakukan pencarian mengikuti instingnya dari suatu tempat ke tempat lain dan entah kenapa, tanpa alasan yang jelas, ia hampir berhasil. Ia mendapat informasi bahwa Olenka di Chicago, dan berdasarkan pengetahuannya akan pengalaman Olenka yang memungkinkan ia sedang bergaul dengan seniman-seniman jalanan di kota tersebut, Fanton ‘menggelinding’ ke sana. Tetapi di Chicago ia juga tak betul-betul serius merencanakan mekanisme kerja dalam investigasi akan keberadaan Olenka. Dummond malah sibuk berwisata ria dengan dua perempuan, M.C. dan M.B., yang secara kebetulan pula dikenalnya. Meski masih dalam bayang-bayang akan pencarian terhadap Olenka, M.C. mulai mencuri perhatian Fanton.
Terus dalam bayang-bayang Olenka dan tanpa pertimbangan yang kuat, Dummond melamar M.C. M.C. menolak dan ternyata ia harus segera kembali ke rumahnya di Pensylvania. Fanton balik menggelinding ke Tulip Tree dan di sana telah menunggu surat dari Olenka. Olenka bercerita banyak namun tak ada jalan untuk sebuah pertemuan. Dummond juga terkenang terus pada M.C. dan membuatnya terinspirasi untuk membuat lima surat masturbasi. Ditulis untuk seseorang namun dibalas sendiri. Ditengah pikiran tentang M.C. itu, Fanton semapat dua kali menerima surat dari Olenka dan dalam membaca surat tersebut ia seperti sedang bercakap-cakap seperti biasanya dengan Olenka karena Olenka juga seperti tahu perikehidupan Dummond selama ia tinggalkan. Kemudian, secara kebetulan juga, Fanton mengetahui tentang kecelakaan pesawat yang menimpa M.C. Tanpa alasan yang jelas ia pergi mengunjungi M.C. Lalu ia pun tinggal disana. Mengulangi pinangannya, tapi kemudian Dummond malah pergi, tanpa alasan yang pasti, sebelum perkawinan jadi.
Sepergi dari tempat nona M.C. yang telah cacat itu, Fanton berencana kembali ke Tulip Tree, manatahu ada surat lagi dari Olenka selama sekian waktu Tulip Tree ditinggalkan, pikirnya. Namun, secara kebetulan, di sebuah bandara – sebelum sempat pulang kembali, Dummond membaca sebuah surat kabar yang memberinya informasi tentang keberadaan Olenka di Washington D.C. Fanton pun memutuskan menggelinding ke sana. Setiba di Washington, Dummond pun tak menyegerakan diri mencari Olenka, sempat dulu beliau main-main ke suatu tempat. Dalam keinginan yang tak begitu kuat untuk menemui Olenka, yang ia ketahui kemungkinan sedang di rawat di rumah sakit, ia mendapat informasi dari perawat rumah sakit bahwa Olenka baru saja keluar dari sana. Fanton tak segera pula mencari Olenka. Dummond merasa telah menderita nausea. Ia ingin remuk dan hilang bentuk, seperti burung phoenix yang lebur dulu di udara untuk kemudian kembali menjelma. Menjadi yang baru.
3. ASPEK MIMETIK KARYA
3.1 ATHEIS
Yang menjadi latar realitas bagi novel ini kondisi Bandung, lebih luas lagi Indonesia, dan lebih luas lagi: dunia, pada masa penjajahan Jepang di Indonesia. Ada latar yang berupa perkembangan pemikiran dan situasi perpolitikan saat itu, ada juga berupa pelataran tempat berupa suasana kehidupan di kota Bandung waktu itu. Kemudian pelataran lain yang tak perlu dibahas terkait fokus kajian tulisan kali ini ada juga bisa kita sebut berupa keadaan daerah Garut atau bagaimana cara berpakaian orang dan permainan anak-anak tempo doeloe.
Pada masa-masa penjajahan Jepang, arus pemikiran barat yang telah mulai merasuk sejak zaman kesusastraan pujangga baru, semakin mengakrab di kalangan cendikia-cendikia bangsa. Salah satu yang beroleh tempat itu adalah ideologi marxis yang dilahirkan sebagai sebuah konsep pemikiran untuk melawan ketidak adilan cara hidup masyarakat kapitalis oleh seorang Jerman bernama Karl Marx dan kemudian ternyata dipraktekkan dengan sangat kejam lewat tangan besi Lenin setelah melalui formula komunisme dari Lenin. Di Indonesia, gerakan komunis, yang bercampur pengertian dengan ideologi marxis, mengawali gebrakan-nya lewat pemberontakan Madiun 1948. Bisa dipahami bahwa pada masa-masa penjajahan Jepang, sebagaimana pula cerita novel Atheis ini, merupakan gerakan-gerakan awal dari komunitas mereka yang masih berupa aksi kecil-kecil dan forum-forum tukar pikiran demi membina kemapanan pemahaman ideologi.
Pada masa-masa itu juga paham keagamaan tradisional masyarakat kala itu mulai berhadapan dengan gaya hidup barat yang sangat terbatas dikenalkan oleh Belanda dan ideologi komunis yang, sebaliknya, sangat merakyat disebarkan oleh pemikir-pemikir muda. Namun sejarah membuktikan bahwa kemudian komunis dihancurkan, seperti, untuk selama-lamanya dari tanah pertiwi tercinta yang masyarakatnya, katanya sih, patuh taat kepada Tuhan Yang Maha Esa, berujung di peristiwa G30S/PKI tahun 1965. Namun sepertinya berpangkal lagi sejak era reformasi dan tumbangnya rezim orde baru dengan bentuk yang masih malu-malu kucing lewat usungan ideologi sosialis-nya saja. Ya, tentu. TNI kita masih akan dengan sangat kuat menjaga pancasila dan dengan sangat hebat pula mempertahankan penguasa.
Tentunya ragam pemikiran yang berkembang sangat lebih variatif dewasa ini. Pada sekira tahun 40-an dulu bisa dilihat betapa akan masih sangat keras benturan yang terjadi antara pemahaman keagamaan tradisional muslim, yang menjadi mayoritas minor di negeri yang kaya ini, juga latar belakang keterdidikkan masyarakat masa itu terhadap arus pemikiran marxis yang seperti nggak neko-neko dan amat sadis. Namun yang lebih megemuka masa itu adalah wacana nasionalisme kemerdekaan Indonesia, dan pertentangan tak ada ujung antara kaum relijius bangsa dengan kaum komunis pun dibungkus aman dalam ikatan nasionalisme kebangsaan.Suasana kehidupan di kota Bandung waktu itupun terkait erat dengan suasana umum pergolakan perjuangan bangsa. Modernitas mendapat tempat di kota-kota, dibawa Belanda, namun kondisi perang memang tak ada yang nyaman dimana-mana juga. Tapi tentu saja sebagian aktifitas harian masyarakat biasa terus berlanjut di tengah-tengah situasi tersebut. Termasuk sarana hiburan grup-grup sandiwara yang katanya pada masa itulah mengalami masa-masa keemasannya.
3.2 OLENKA
Untuk novel ini, sebagai karya pengarang Indonesia dan berlatar Amerika – terkait dengan ciri-ciri perikehidupan masing-masing keduanya, saya akan membagi unsur mimetik utama karya ini pada dua hal: latar tempat, perihidup, dan jalan pikir manusia Amerika (barat) dan kedua, ciri ke-Indonesia-an pada novel tersebut.
Amerika Serikat adalah perlambang kebebasan bagi dunia barat. Sebagai sebuah negara, sejarah mereka dimulai oleh kedatangan para perantau dari bumi Inggris Raya yang tak mau tunduk pada kemapanan aturan hidup, baik oleh negara maupun gereja, yang ada di tanah asal mereka. Sekumpulan koboi-koboi liar, begitulah gambaran tentang karakter manusia-manusia yang anak cucunya nanti akan membikin negara tersebut begitu ber-Adi kuasa. Selain ada juga unsur ras lain yang minoritas seperti negro, latin, dan asia di sana, termasuk kaum Indian sebagai penduduk aslinya. Dan setelah Perang Dunia II terlihatlah kebesaran the Amerika. Sebagai negara modern yang besar, disanalah tempat berbiaknya pertumbuhan pemikiran hingga perikehidupan modern. Gaya hidup makhluk modern yang diidentifikasikan sebagai individual, hasil oposisi dari ciri kehidupan tradisional yang lebih terikat dalam hubungan kesatuan sosial, pun dicapkan pada kehidupan ala Amerika. Pun, kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan dan kemapanan ekonomi dan kemajemukan berpikir, jadi ciri tempat itu pula. Dalam novel Olenka, secara eksplisit dimasukkan realitas sejarah pada tempat-tempat latar novel tersebut yang bersetting sekira akhir tahun 70-an. Alhasil beberapa kejadian aktual waktu itupun dijumpai dalam novel ini, semisal berita yang sedang hangat waktu itu, dan hal ini bisa diujikan pada kejadian sebenarnya. Hal ini semakin mengukuhkan kehadiran kehidupan ala Amerika dalam novel ini.
Unsur kedua adalah mengenai unsur ala Indonesia sebagai tanah kelahiran pengarang novel ini, lebih sempitnya lagi adalah bagian filosofi Jawa sebagai ras pengarangnya. Dibanding living style of Americans, cara hidup dan olah pikir orang Indonesia masih cukup terhubung dengan perihidup masyarakat tradisional. Dalam menjelang kemodernannya, unsur-unsur yang bersifat metafisis dan relijiusitas adalah masih kuat posisinya, setidaknya jika dibanding, sekali lagi, living style of Americans. Unsur-unsur metafisis yang masih cukup kuat inilah yang membuat makhluk Indonesia tak (mau) jatuh dalam materialistis sempurna sebagai tujuan hidup manusia modern harapan Barat sana. Jika dalam relasi sosial di Amerika (dan Barat) menyerahkan sepenuhnya segala perhitungan untung rugi pada logika dan kebutuhan dunia (dengan memisahkan dulu pembicaraan tentang relijiusitas yang tentu juga ada di sana karena bagaimanapun sistem sekuleritas membungkusnya), di Indonesia relasi sosial masih sangat kuat dipengaruhi petuah-petuah lama dan tentu, katanya, petunjuk agama.
4. LATAR BELAKANG PENGARANG
4.1 ATHEIS
Achdiat K. Mihardja dilahirkan di Cibatu, Garut, Jawa Barat pada 6 Maret 1911. Pendidikan formalnya adalah AMS Solo bagian A dan Fakultas Sastra dan Filsafat Universitas Indonesia (1948 – 1950). Beliau pernah bekerja sebagai: guru Taman Siswa, Redaktur Balai Pustaka, Kepala Jawatan Kebudayaan Perwakilan Jakarta Raya, dosen Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1959 – 1961) dan sejak 1961, hingga sekarang, menjadi dosen Kesusastraan Indonesia pada Australian National University, Canberra. Beliau juga pernah menjadi redaktur harian Bintang Timur dan beberapa majalah, antara lain: Gelombang Zaman (Garut), Pujangga Baru, dan Konfrontasi. Beliau juga aktif di berbagai organisasi, antaranya: Wakil Ketua Organisasi Pengarang Indonesia, anggota BMKN, anggota Partai Sosialis Indonesia. Pernah juga beliau menjadi wakil Indonesia dalam Konggres PEN Club Internasional di Lausanne, Swiss (1951). Novelnya Atheis sendiri, yang diterbitkan tahun 1949, mendapat Hadiah Tahunan Pemerintah RI tahun 1969. Kemudian kumpulan cerpennya, Keretakan dan Ketegangan (1956) mendapat Hadiah Sastra Nasional BMKN TAHUN 1957. Karya-karyanya yang lain adalah: Bentrokan dalam Asrama (drama, 1952), Kesan dan Kenangan (kumpulan cerpen, 1960), Debu Cinta Bertebaran (novel, 1973), Belitan Nasib (kumpulan cerpen, 1975), Pembunuh dan Anjing Hitam (kumpulan cerpen, 1975), dan sebagai editor dalam Polemik Kebudayaan (1948). Beliau juga pernah menerjemahkan Religi Susila karangan M.K.Gandhi ke bahasa Indonesia pada tahun 1950. Novel Atheis-nya ini diterjemahkan oleh R.J.Maguire ke bahasa Inggris (st.Lucia, Queensland, 1972). Boen S. Oemarjati pernah melakukan studi terhadap roman Atheis ini dengan buku yang berjudul: Roman Atheis, Sebuah Pembicaraan (1962). Setelah lama tak muncul di mata publik Indonesia, baru-baru ini ia muncul dalam rubrik tokoh Harian Umum KOMPAS pada suatu hari minggu di bulan Desember 2004. Kebetulan saat itu beliau sedang berkunjung kembali ke tanah airnya tercinta: Indonesia Raya, setelah lama berdiam di Australia. Pada harian tersebut beliau mengungkapkan rencana untuk menerbitkan sebuah karya baru, yang penuh perenungan teologis-filosofis, di usia sangat sepuhnya ini.
4.2 OLENKA
Budi Darma, pria jawa tulen kelahiran Rembang, Jawa Tengah, 25 April 1937 ini dikenal sebagai pembawa corak baru dalam penulisan cerpen pada tahun 1970-an, bersama penulis-penulis inkonvensional lainnya seperti Putu Wijaya, Danarto, dan Iwan Simatupang. Ia menyelesaikan studi program S1-nya di Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gajah Mada pada tahun 1963. Beliau juga pernah memperdalam pengetahuan di Universitas Hawaii, Honolulu, Amerika Serikat dari tahun 1970 samapai 1971. Kemudian ia meraih MA dari Universitas Indiana, Bloomington, AS (1976) dan menyelesaikan disertasinya juga dari universitas yang sama. Perikehidupannya selama di Bloomington ini pulalah yang melatari lahirnya Olenka (diterbitkan untuk pertama kali tahun 1973), juga kumpulan cerpennya; Orang Orang Bloomington pada waktu yang hampir sama. Diceritakan bahwa ia menyelesaikan novelnya ini justru ditengah-tengah masa penggarapan kumpulan cerpennya itu. Karya-karyanya yang lain adalah: Kritikus Adinan (kumpulan cerpen), Rafillus (novel, 1989) dan Ny. Talis juga novel pada tahun 1996. Pada novel yang terakhir ini sebagian pengamat sastra menilai kualitas kesastraan Budi justru pula malah menurun dibanding karya-karyanya sebelumnya. Tapi ‘greget’ Darma tetap terlihat hingga tahun-tahun belakangan, walau tak sering, lewat cerpen-cerpennya yang umumnya dimuat di Harian KOMPAS dan sering terpilih jadi karya pilihan yang dibukukan. Terakhir berhembus kabar burung bahwa beliau juga sedang mau menyelesaikan sebuah novel teranyar, yang tentu saja cukup dinantikan dengan harap-harap cemas oleh para pecinta sastra bermutu. Selain karya berupa fiksi Budi juga menerbitkan dua kumpulan ‘esei’ yang masing-masingnya bertitelkan Harmonium dan Solilokui. Pada karya-karyanya ini, Darma pun unjuk gigi dengan kapasitas intelektual keakademisannya. Sehari-hari Budi Darma mengisi dengan menjadi pengajar tetap pada IKIP (atau sekarang bernama Universitas Negeri) Surabaya. Sempat juga beliau menjabat sebagai dekan disana. Selain itu tentu beliau juga mengisi hari-harinya dengan berbagai kegiatan ilmiah baik di dalam maupun luar negeri, seperti suatu seminar di India yang menghasilkan pula sebuah cerpen bermutu berjudul Derabat yang tentu juga terpilih sebagai cerpen terbaik pilihan KOMPAS. Kemudian beliau juga terlibat sebagai anggota pleno Dewan Kesenian Surabaya dan juga terlibat dalam Dewan Kesenian Jakarta sebagai dewan fatwa khasanah kesustraan Indonesia. Salah satu berita terhangat adalah keterlibatan beliau sebagai dewan juri dalam Lomba Penulisan Roman DKJ yang hasilnya banyak menuai kritik disana-sini. Filosofi hidup yang mengalir seperti air, mengikut guratan takdir, pernah diungkapkan oleh Budi Darma ketika diwawancara KOMPAS tentang prinsip kesusastraanya, prinsip kehidupannya.
5. REFLEKSI SOSIAL BUDAYA DAN POSISI PENGARANG
5.1 ATHEIS
Pengarang dalam novel ini ditempatkan sebagai orang ketiga yang berhubungan langsung dengan tokoh Hasan sebagai tokoh utama. Maka Hasan pun menjadi pencerita dalam sebagian besar cerita lalu setelah kematiannya pengaranglah yang meneruskan dengan cara menelusuri berbagai cerita tentang kehidupan Hasan yang tak sempat diketahuinya. Sebagai, secara real, pengarang juga tinggal ditempat yang sama dengan latar cerita, berasal dari tempat yang sama dengan tokoh utama cerita, dan juga punya latar belakang pergelutan ideologi seperti tokoh yang diceritakannya, bisa dipahamai betapa sangat tidak berjarak cerita dalam novel ini dari kehidupan pengarangnya sendiri. Novel ini menggambarkan situasi sosial (dalam) pada masa itu (sehingga ia juga berupa rekaman sejarah dalam beberapa hal), dan memperlihat suatu kondisi psikologis yang ada pada sebuah individu yang hidip pada masa itu. Diceritakan dalam novel bagaimana tokoh Hasan menderita beban pikiran sebab ia mulai dirasuki pemikiran marxis yang bertentangan dengan keyakinan tradisionalnya selama ini. Juga kemudian bagaimana ia harus pula mewujudkan semai-semai bunga cintanya pada Kartini yang membuat ia memaksakan diri untuk tetap bergabung dalam komunitas tersebut. Lalu, ternyata mendapatkan Kartini pun tak membuat happy ending bagi kisah Hasan. Sebagai makhluk yang ternyata tetap tak bisa menghilangkan cara pikir konservatifnya, Hasan berpisah dengan Kartini. Namun, belum berpisah dengan ke-marxis-annya.
Situasi seperti ini menggambarkan pula bagaimana salah satu episode kemelut hidup yang mungkin dihadapi oleh seorang anak bangsa pada masa itu. Sejarah menceritakan bagaimana marxis dihabisi di ini bumi pertiwi dan perikehidupan orde baru tak memberi tempat bagi kekalahan cara pikir tradisional seperti yang terjadi dalam novel ini. Akhir hidup tragis yang dialami oleh tokoh Hasan barangkali dijadikan suatu alasan bagi otoritas ideologi dewasa ini untuk tetap memublikasi karya ini, sebagai peringatan bukan teladan. Dan ideologi marxis tetap jadi masalah hingga dewasa ini bagi pandangan hidup tradisional masyarakat Indonesia yang malah berusaha menuju sistem hidup kapitalis (dan malahan lagi, itupun dalam posisi konsumen dan pengutang sentosa). Sesuatu yang sudah dibicarakan dengan cukup berani dalam novel yang lahir lebih dari 54 tahun silam ini.
5.2 OLENKA
Novel ini ditulis oleh Budi Darma sewaktu ia melanjutkan pendidikannya ke Amerika dan hidup selama beberapa lama di sana. Novel ini memang berbicara tentang hidup di Amerika. Namun, jika harus dikhususkan kepada pangsa pasar masyarakat Indonesia dan kehidupannya, novel ini seperti juga memberi pelajaran. Secara eksplisit, kita bisa melihat unsur ke-Indonesia-an dalam novel ini terdapat dalam hal-hal seperti: penggunaan sapaan dan makian jawa timuran dalam beberapa bagian, pengutipan sajak-sajak Chairil Anwar, hingga pengutipan ayat-ayat Al-Quran. Tapi, sebagai sebuah fiksi, bukan hal tersebutlah yang utama (atau barangkali memang bukan sama sekali) untuk memeriksa unsur ‘manusia Indonesia’ di negeri Barat sana. Pengambilan setingan latar Barat bagi fiksi ini adalah sebuah perefleksian bagi bangsa kita yang barangkali berencana untuk di masa depan bisa seperti Barat sana. Novel ini seperti memberi pelajaran tentang bagaimana kekeringan ruhaniah yang diderita manusia-manusia individual di Barat sana. Sebagai sebuah novel yang oleh Tirto Suwondo dianggap mengandung tipikal jenis polifonik – sebagaimana identifikasi studi dialogis Mikail Bakhtin , maka novel ini memang penuh dengan peristiwa peng-katarsis-an seorang individu atas dirinya, bercermin akan diri sendiri, kira-kira begitulah bahasa yang lebih populernya. Untuk proses katarsis ini pengarang perlu membuat tokohnya menjadi majemuk dan toleran dalam melihat berbagai persilangan arus pemikiran, mencerna dalam segala logikanya agar tak begitu saja percaya atau menentang sesuatu.
Menariknya kemudian, dengan segala ke-absurdan-nya, cerita selalu mengambangkan berbagai persoalan yang seperti didesak mencari penyelesaian. Pertama bisa disebabkan oleh tuntutan hidup ala barat yang butuh segera memutuskan dan harus menyenangkan. Kedua, disini muncul unsur cara pikir timur yang relijius, karena manusia itu serba terbatas maka ia pun akhirnya hanya bisa menyerahkan pada takdir. Secara eksplisit ini tercantum pada akhir cerita. Dalam hal ini barangkali bisa dinilai ada keberpihakkan pada orang timur punya nilai-nilai, namun tetap dalam berbagai bagian kesempitan cara pandang yang masih tradisional di-tidak sarankan lewat berbagai eksploitasi cara pikir modern. Dan terakhir, sekali lagi, kemualan terhadap diri sendiri ‘nausea’ merupakan peringatan bagi keinginan untuk membarat (hal yang negatif dari barat) –nya manusia Indonesia. Sekali lagi, seperti yang dieksplisitkan pada akhir cerita oleh novel ini.
6. SIMPULAN: UNSUR SOSIAL-PSIKOLOGIS DALAM KEDUA KARYA
Sesuai dengan tujuan tulisan ini yang membatasi analisis pada pembandingan setara unsur sosial dan psikologis yang terdapat dalam kedua karya ini, sekarang akan kita lihat hubungan antar keduanya. Secara tematik Atheis bertemakan kegundahan spritual manusia, sementara Olenka sendiri berdasarkan pengaluran peristiwa cerita bisa kita anggap bertemakan petualangan cinta. Tapi, dari unsur psikologi tokoh dan konflik sosial yang dihadapi oleh tokoh utamanya, bisa ditemukan persamaan sekaligus pertentangan yang bisa dihubungkan antar keduanya. Dalam Atheis tokoh Hasan mengalami tekanan psikologi karena ketak sanggupannya menerima cara pikir baru yang dihadapinya, sementara ia terus memaksakan diri terlibat karena debaran asmara yang menuntun nalurinya. Dalam Olenka, tokoh utamanya Fanton Dummond pun juga mengalami keguncangan psikologis yang lebih dikonkritkan dengan nama penyakit nausea. Dan seperti Atheis yang mana tokoh utamanya meyiksa diri demi cinta, Olenka pun memiliki pola yang sama. Sebagai akibat memburu Olenka, Fanton Dummond yang selama ini cuek bebek menikmati gaya hidup individual dan materialistis sehari-harinya, akhirnya jadi banyak mengambil ‘hikmah’ dan pelajaran bagi kehidupannya hingga ia pun mengalami nausea, rasa mual pada diri sendiri. Pola berkebalikan dapat kita lihat dalam penyelesaian akhir bagi kedua permasalahan kedua tokoh dalam kedua novel ini. Tokoh Hasan, sepertinya, memutuskan kembali ke keyakinan lamanya, sedang Fanton Dummond, sepertinya pula, memutuskan untuk mencari ‘hidup’ baru sebagai pengganti kehidupannya yang memuakkan selama ini.
Dalam Olenka, Fanton Dummond digambarkan sebagai subjek individual yang tetap mengambil jarak dari sekitarnya, sementara tokoh Hasan adalah sosok yang selama ini kurang gaul dan dibikin menjadi sosok yang punya pergaulan. Namun, kedua tokoh ini sama mengalami keterasingan diri dari lingkungannya. Hasan meski secara fisik bergaul dengan kawan-kawannya di lingkungan marxis namun ditempatkan sebagai subjek pasif yang tak mampu berbuat banyak menghadapi berbagai wacana yang ada di lingkungannya itu, malah ini membuatnya menderita. Tapi, ada pertentangan juga bisa kita lihat jika membandingkan kedua novel ini. Fanton Dummond sebagai sugjek yang asosial pikiran-pikiran menerabas jauh menembus berbagai perasaan dan yang terpikir oleh orang-orang disekelilingnya sementara Hasan, meski fisiknya berakrab-ria dengan orang-orang di sekelilingnya, pikirannya tak sanggup terlibat dan terasing sendirian, lalu mencuba mengalihkan beban pikiran kepada bayangan Kartini tercinta.
Atheis ditulis Akhdiat masih sekian tahun sebelum keberangkatan selama-lamanya ke Australia, sedangkan Olenka ditulis Budi Darma dalam sekian waktu keberadaannya di luar negeri, Amerika sana. Atheis, dengan latar tempat negeri sendiri memperlihatkan bagaimana pikiran-pikiran luar meyerbu anak bangsa, Olenka sebaliknya memperlihatkan bagaimana orang luar mengalami frustasi atas cara hidupnya dan relijiusitas timur serta kolektifitas masyarakatnya sepertinya merupakan sebuah solusi. Itulah beberapa hal terkait hal diluar teks yang memperlihatkan hubungan perbandingan menarik antar kedua novel ini. Bagaimanapun, sebagai sebuah simpulan, tekanan psikologis yang dihadapi seorang individu di tengah-tengah kehidupan sosialnya merupakan wacana yang sama-sama diangkat oleh kedua novel ini dan sepertinya mengajak kita, pembaca, untuk juga memikirkannya. Demikianlah hubungan intertekstual yang bisa saya kupas antara dua novel tersebut dan bagaimana posisi dan efek sosiologis masing-masing karya dalam tulisan kali ini.
DAFTAR PUSTAKA
1.Darma, Budi. 2000. Olenka. Jakarta: Balai Pustaka
2.Mihardja, Achdiat K.. 2000. Atheis. Jakarta: Balai Pustaka
3.Eneste, Pamusuk (ed). 1981. Leksikon Kesusastraan Indonesia Modern. Jakarta: Gramedia.
4.Suwondo, Tirto. 2003. Sstudi Sastra ; Beberapa Alternatif. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya.
5.Ratih, Rina. 2003. “Pendekatan Intertekstual Dalam Karya Sastra” dalam Metodologi Penelitian Sastra, Jabrohim (ed.), hal. 125-133. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya.